Home Seputar Kecantikan Kandungan Hidrokuinon dalam Kosmetik untuk Kulit, Amankah?

Kandungan Hidrokuinon dalam Kosmetik untuk Kulit, Amankah?

by coriate

Kandungan hidrokuinon dalam kosmetik sering kali menjadi topik perbincangan hangat, baik di kalangan awam maupun kalangan ahli. Dari sisi pro, hidrokuinon dinilai efektif dalam memperbaiki masalah kulit badan. Sebaliknya, di sisi kontra, bahan ini mampu mendatangkan bahaya pada kesehatan manusia.

Namun, manakah pernyataan yang benar? Apakah kandungan hidrokuinon dalam kosmetik berbahaya seperti merkuri? Apakah penggunaan hidrokuinon diperbolehkan di Indonesia? Bagaimana cara mengetahui kandungan hidrokuinon dalam kosmetik? Mari temukan jawabannya dalam penjelasan berikut!

Apa Itu Hidrokuinon?

Ilustrasi gambar seorang wanita sedang mengoleskan krim hidrokuinon di kulit wajahnya

Hidrokuinon, yang disebut juga sebagai benzena-1,4-diol atau kuinol, merupakan bahan yang berfungsi sebagai pemutih kulit atau depigmentasi. Senyawa ini biasa dimanfaatkan untuk mengatasi masalah kulit, seperti melasma, freckles, bekas jerawat, noda hitam, atau bekas eksem dan psoriasis.

Hidrokuinon bekerja memutihkan kulit dengan cara menurunkan kadar melanosit. Melanosit merupakan pembentuk melanin yang menghasilkan warna kulit. Dalam kasus hiperpigmentasi, kelebihan melanin diakibatkan peningkatan produksi melanosit. Dengan mengendalikan pembentukan melanosit melalui pengaplikasian hidrokuinon, warna kulit dapat berangsur-angsur merata.

Meskipun kandungan hidrokuinon dalam kosmetik dapat membantu mengatasi bintik gelap atau kemerahan, senyawa ini tidak bisa berhadapan dengan peradangan aktif. Sebagai contoh, hidrokuinon mampu membantu meminimalkan bekas jerawat, tetapi tidak akan berefek pada kemerahan dari jerawat aktif.

Sekilas Sejarah tentang Kandungan Hidrokuinon dalam Kosmetik

Hidrokuinon sebenarnya bisa saja tidak dikenal publik seperti sekarang. Dahulu, tepatnya sejak awal abad ke-19, senyawa ini hanya digunakan untuk perkembangan fotografi dan kimia.

Namun, setelah terjadi sejumlah kecelakaan industri di Amerika Serikat pada akhir 1930-an, efek mencerahkan dari hidrokuinon pun ditemukan. Monobenzon (hydroquinone monobenzyl ether), yang dipakai sebagai pemvulkanisasi karet pada sarung tangan pelindung, mengenai dan memutihkan kulit para tenaga kerja Meksiko berkulit hitam. Pekerja yang memakai sarung tangan tersebut menunjukkan depigmentasi pada lengan mereka setelah kontak dengan produk.

Efek yang begitu cepat dari hidrokuinon membuat penggunaannya tersebar secara cepat di Amerika Serikat. Produk-produk hidrokuinon yang bertujuan untuk memutihkan atau depigmentasi kulit marak diproduksi. Kemudian, produk berhidrokuinon mulai diekspor ke berbagai belahan dunia, termasuk Afrika Selatan.

Kala itu, Afrika Selatan diperintah dengan sistem pemisahan ras atau Apartheid. Orang-orang kulit putih berada di puncak piramida sosial dan bisa menikmati hak istimewa yang tidak dapat diperoleh orang-orang kulit hitam. Sikon yang opresif ini akhirnya menghubungkan kesuksesan ekonomi dan sosial dengan warna kulit.

Para wanita kulit hitam pun tergiur dengan produk pemutih yang dapat membuat warna kulit mereka mendekati warna kulit para kalangan elit. Akhirnya, pasar produk pemutih berkembang di Afrika Selatan. Para pengusaha kulit putih memanfaatkan situasi tersebut untuk meraup keuntungan dengan menciptakan merek produk pemutih sendiri.

Apakah Kandungan Hidrokuinon dalam Kosmetik sama dengan Merkuri?

Tidak hanya namanya yang berbeda, hidrokuinon dan merkuri pun memiliki karakteristik, fungsi, dan efek yang berbeda. Penggunaan hidrokuinon masih diperbolehkan untuk keperluan kesehatan yang artinya harus sesuai anjuran dokter. Jika memakai produk hidrokuinon dalam jumlah yang berlebihan dan dalam jangka panjang, maka hidrokuinon juga akan menimbulkan efek samping berbahaya.

Di sisi lain, merkuri alias raksa merupakan kandungan yang berbahaya jika sampai kontak dengan makhluk hidup. Merkuri memang bermanfaat untuk beberapa keperluan, seperti pembuatan termometer, fungisida, amalgam gigi, dan baterai.

Namun, bukan berarti merkuri boleh dikonsumsi! Merkuri adalah zat yang sangat beracun jika sampai masuk ke dalam aliran darah makhluk hidup! Tidak ada manfaat apa pun yang membuat merkuri boleh dimakan maupun dioleskan ke kulit!

Intinya, hidrokuinon masih diizinkan untuk keperluan medis yang berhubungan dengan pengobatan kulit. Sebaliknya, merkuri dan kandungan hidrokuinon dalam kosmetik sangat dilarang karena ditujukan untuk mempercantik kulit yang justru akan membawa efek negatif jangka panjang.

Baca juga: Harus Waspada! Ini Ciri-Ciri Wajah yang Terkena Merkuri!

Kadar Kandungan Hidrokuinon dalam Kosmetik yang Diperbolehkan BPOM

Ilustrasi gambar krim skin care yang mengandung hidrokuinon

BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) mengkategorikan hidrokuinon sebagai bahan untuk obat-obatan, bukan kosmetik. Makanya, penggunaan hidrokuinon harus diawasi oleh dokter yang profesional. Pada obat-obatan, senyawa ini pun hanya diizinkan untuk diaplikasikan pada tubuh selama kurang dari 6 bulan dan kadarnya tidak boleh melebihi batas.

Satu-satunya kandungan hidrokuinon dalam kosmetik yang diperbolehkan hanyalah pada pewarna rambut dan cat kuku. Untuk pewarna rambut, BPOM membatasi hidrokuinon maksimal 0,3 persen, sedangkan cat kuku artifisial hanya boleh mengandung hidrokuinon maksimal 0,2 persen.

Bahaya dan Efek Samping Kandungan Hidrokuinon dalam Kosmetik

Hidrokuinon memang efektif mencerahkan bintik-bintik gelap pada kulit. Namun, penggunaan molekul ini secara berkala bukan hal yang dianjurkan, terutama hidrokuinon dalam kosmetik yang sudah jelas dilarang.

Pada 1975 dan 1980, terdapat studi yang mendokumentasikan kasus keracunan hidrokuinon pada pasien yang mengidap exogenous ochronosis atau flek biru. Penyakit ini menyebabkan munculnya bintik hitam atau bekas kebiruan pada kulit pasien yang memakai produk pemutih.

Kemudian, jumlah studi dan risiko yang berhubungan dengan pemakaian hidrokuinon jangka panjang mulai bertambah. Efek-efek negatif lain yang sudah ditemukan, termasuk iritasi kulit, bau badan tak sedap, bercak putih, dan penurunan imunitas tubuh.

Selain itu, ada pula percobaan pada tikus yang menghasilkan penemuan efek karsinogenik setelah pengaplikasian hidrokuinon. Pada wanita yang sedang hamil dan menyusui, penggunaan hidrokuinon ditemukan dapat membahayakan pertumbuhan janin maupun kesehatan bayi.

Dengan banyaknya bukti ilmiah dan evolusi Apartheid, Afrika Selatan melarang penjualan produk berbahan hidrokuinon di wilayahnya pada 1980. Komunitas sains internasional pun lebih kritis dalam menghadapi topik hidrokuinon. Pada 2001, Eropa dan Jepang ikut memberlakukan larangan kandungan hidrokuinon dalam kosmetik.

Adapun efek samping yang kemungkinan Anda alami saat menggunakan produk yang memiliki kandungan hidrokuinon dalam kosmetik, di antaranya adalah

  • Kulit kering
  • Iritasi
  • Gatal-gatal
  • Kemerahan
  • Dermatitis ringan atau reaksi alergi

Cara Mengetahui Kandungan Hidrokuinon dalam Kosmetik

Tips awal yang dapat Anda lakukan untuk mengetahui kandungan hidrokuinon dalam sebuah produk kosmetik adalah dengan membaca komposisinya. Waspadalah ketika menemukan nama-nama lain hidrokuinon, seperti 1,4-Benzenediol, tequinol, benzene-1,4-diol, p-Diphenol, quinol, hydroquinol, hydrochinonium, hidrochinone, p-Dihydroxyl benzene, dan p-hydroxylphenol.

Adapun beberapa metode penelitian yang bisa diterapkan untuk mengidentifikasi kandungan hidrokuinon dalam kosmetik, seperti titrasi serimetri, Thin Layer Chromatography (TLC), High Performance Liquid Chromatography (HPLC), Gas Chromatography and Mass Spectroscopy (GCMS), dan spektrofotometri. Namun, untuk mengetahui kandungan hidrokuinon dalam kosmetik secara jelas lewat uji lab, tentu Anda harus siap merogoh kocek yang dalam untuk membayar biaya ujinya.

Jika memang tidak punya bujet untuk uji lab dan produk tidak memiliki label atau malah dipasangi izin edar palsu, jangan beli maupun gunakan produk yang tidak jelas, ya!

Memang banyak pro dan kontra yang meliputi hidrokuinon dalam kosmetik. Walaupun memiliki beragam manfaat, penggunaan hidrokuinon dalam jangka panjang akan menimbulkan efek samping berbahaya.

Maka dari itu, sebaiknya patuhi regulasi yang dikeluarkan oleh pihak berwajib seperti BPOM dan belilah produk-produk kecantikan yang sudah jelas memiliki komposisi aman. Jangan hanya mencari hasil instan, tetapi malah memperburuk kesehatan Anda, ya!

Baca juga: Diliat Dulu Ya Say! 7 Kandungan Skincare yang Aman Ini

You may also like

Leave a Comment