Home Bisnis Maklon Bisnis Skema Ponzi Bikin Kamu ‘Boncos’, Benarkah?

Bisnis Skema Ponzi Bikin Kamu ‘Boncos’, Benarkah?

by coriate

Mungkin Anda pernah mendengar istilah skema Ponzi (Ponzi scheme), namun tidak mengenal apa yang dimaksud dengan skema tersebut. Skema ini merupakan modus penipuan yang akan menjanjikan siapa pun yang berinvestasi untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Skema yang ditemukan oleh Charles Ponzi ini merupakan salah satu skema penipuan yang paling sering terjadi. 

Nama Charles Ponzi yang menjadi penemu skema ini menjadi populer pada tahun 1920 sebab berhasil menipu banyak orang. Tentunya, kerugian yang disebabkan Ponzi tidak main-main jumlahnya—yaitu sekitar 20 miliar dolar Amerika. Bahkan, penipuan lain yang dilakukan tokoh bernama Bernie Madoff juga berhasil mengantongi 65 miliar dolar Amerika berkat skema ini.

Tentu 20 dan 65 miliar dolar adalah jumlah yang fantastis. Bagaimana bisa Ponzi dan Madoff mendapatkan banyak uang seperti itu? 

Bagaimana Skema Ponzi Menghasilkan Uang?

Bagaimana cara pelaku skema ini mendapatkan uangnya? Sebenarnya, inti dari Ponzi scheme adalah redistribusi aset. Misalnya, seseorang bernama A mendirikan sebuah bisnis investasi yang menjanjikan 18% keuntungan dalam waktu setahun (1,5% per bulan) dengan syarat menyetor sejumlah uang dan merekrut minimal 5 orang lain. 

Nah, anggap saja seseorang bernama B, C, D, dan E tertarik untuk berinvestasi di perusahaan A. Mereka tentu diwajibkan untuk mencari anggota baru untuk berinvestasi. Jika dapat memenuhi ini, maka mereka akan mendapatkan komisi yang berasal dari dana yang diinvestasikan para investor.  

Maka dari itu, para anggota perlu mengumpulkan anggota-anggota baru. Sebab, hanya dengan hal inilah mereka bisa mendapatkan modal mereka kembali berikut keuntungannya. 

Selama prosesnya, tak jarang banyak dana yang digunakan untuk meyakinkan orang untuk mau berinvestasi pada perusahaan A. Bahkan, tak jarang dana ini akan melebihi nominal keuntungan 1,5% yang dijanjikan. Nah, dari sinilah anggota bisa mengalami kerugian. 

Lalu, dari mana bunga 1,5% per bulan yang dijanjikan diperoleh? Pemilik Ponzi scheme ini akan menginvestasikan dana B, C, D, dan E pada instrumen investasi yang mampu memberikan keuntungan lebih dari 1,5% per bulan. Dari situlah pemilik skema akan mendapatkan keuntungan. 

Skema Ponzi Terbesar di Dunia

Apa saja penipuan berskema Ponzi yang pernah terjadi? Selain penipuan yang dilakukan oleh Charles Ponzi, ada juga penipuan yang dilakukan oleh Bernie Madoff. Bernie Madoff melakukan penipuan dengan jumlah nominal yang lebih besar jika dibandingkan dengan Charles Ponzi—yaitu sekitar 65 miliar dólar. 

Bisnis investasi berskema Ponzi yang dilakukan Madoff ini disebut-sebut merugikan lebih dari 37.000 orang. Bahkan, investor-investor tersebut tersebar di 120 negara. 

Bernie Madoff memulai aksinya dengan mendirikan perusahaan bernama Bernard L Madoff Investment Securities LCC. Perusahaan ini didirikannya pada tahun 1960 dan waktu itu ia sukses menarik minat banyak orang untuk berinvestasi di perusahaannya. 

Perusahaan asset management Madoff ini disebut-sebut sebagai perusahaan yang bereputasi baik pada awalnya. Pasalnya, keuntungan yang dijanjikan berhasil diterima oleh para investor. Bahkan bisnis yang dijalani Madoff ini berlangsung hingga kurang lebih 40 tahun. 

Hanya saja, pada 2008, modus penipuan yang dilakukan Madoff mulai terkuak. Hal ini terjadi karena krisis ekonomi terjadi di Amerika Serikat, dan para klien Madoff pun mengalami krisis. Maka dari itulah, para klien menuntut agar dana yang mereka investasikan dikembalikan. Tetapi, perusahaan Madoff tidak dapat mengembalikan dana tersebut—apalagi bunga yang dijanjikannya. 

Skema Ponzi di Indonesia

Penipuan berkedok Ponzi scheme ini juga banyak terjadi di Indonesia. Salah satu kasus yang terkenal adalah kasus First Travel yang terkuak pada 2017.

Kasus First Travel ini merupakan salah satu kasus berskema Ponzi yang berhasil menipu lebih dari 60.000 calon jemaah umrah. Bahkan, nominal yang berhasil dikantongi pemilik First Travel mencapai Rp 900 miliar. 

Cara Mengidentifikasi Skema Ponzi

Ilustrasi gambar bisnis yang menerapkan skema ponzi

Supaya aman dari skema yang satu ini, tentu Anda perlu tahu bagaimana cara mengenali bahwa sebuah skema investasi termasuk sebagai Ponzi scheme. Ada beberapa ciri yang bisa Anda perhatikan, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Untung Besar dalam Waktu Singkat

Siapa, sih, yang tidak mau mendapatkan keuntungan besar dalam waktu singkat? Siapa pun pasti menginginkan hal tersebut. Sayangnya, dalam berinvestasi, hal seperti itu too good to be true—terlalu indah untuk menjadi kenyataan.

Walaupun semua bentuk investasi dilakukan untuk mendapatkan keuntungan, bukan berarti Anda bisa mendapatkan keuntungan yang besar dalam waktu singkat. Nah, jika Anda mendapatkan penawaran untuk berinvestasi dengan iming-iming yang menggiurkan, maka Anda perlu curiga. Apakah ini bentuk penipuan dengan menggunakan Ponzi scheme?

2. Tidak Diawasi OJK

Di Indonesia, OJK (Otoritas Jasa Keuangan) merupakan lembaga yang mengawasi bergam jasa keuangan yang ada di Indonesia. Maka dari itu, setiap perusahaan yang bergerak dalam bidang investasi (asset management) perlu mendaftarkan usahanya ke lembaga ini. 

Nah, kalau perusahaan yang menawarkan produk investasi kepada Anda tidak terdaftar OJK, hal ini merupakan salah satu red light, nih. Pastikan Anda tidak meneruskan transaksi dengan perusahaan tersebut, ya!

3. Meminta Anda untuk Mencari Anggota/”Investor” Baru

Jika Anda pernah mendengar istilah downliner yang populer di kalangan pelaku MLM, maka istilah ini juga sering digunakan dalam skema investasi metode Ponzi ini. 

‘Anggota baru’ menjadi hal krusial dari skema ini. Pasalnya, tanpa perekrutan anggota baru, tidak ada dana yang masuk ke dalam skema tersebut. Anggota baru yang juga menjadi ‘investor’ ini juga merupakan orang-orang yang memberikan keuntungan bagi Anda. Jadi, keuntungan/reward/bonus bukan berasal dari penjualan barang, melainkan dari perekrutan anggota baru.

4. Terkesan ‘Memaksa’ dengan Prinsip FOMO

FOMO adalah singkatan dari fear of missing out, alias rasa takut karena tidak melakukan suatu aktivitas tertentu. Nah, untuk mengundang minat investor untuk berinvestasi di suatu produk, biasanya pemilik skema akan menerapkan prinsip FOMO ini untuk mengajak orang ikut serta di bisnisnya. Sering kali, kesannya terlalu memaksa. Ironisnya, dengan prinsip FOMO jugalah biasanya ‘anggota lama’ menawarkan produk investasinya bagi calon anggota/investor. 

5. Produk yang Ditawarkan Biasanya Tidak Berkualitas, Namun Mahal

Supaya tidak terlihat sebagai scam, biasanya pemilik Ponzi scheme meminta anggotanya untuk menjual produk tertentu yang sebenarnya berkualitas biasa-biasa saja, namun dijual dengan harga mahal. 

Di sinilah seseorang diminta untuk berhati-hati agar tidak mengalami kerugian. Pikirkan matang-matang tentang spesifikasi produk yang ditawarkan tersebut, lalu pertimbangkan pula harga yang dipatok untuk produk tersebut. Jika produk tersebut memiliki harga terlalu mahal untuk barang yang tidak memiliki spesifikasi yang biasa saja, maka akan lebih baik untuk tidak membeli barang tersebut.

6. Tidak Memiliki Badan Hukum yang Jelas

Adanya badan hukum yang jelas merupakan salah satu hal yang perlu diapresiasi dari sebuah usaha. Pasalnya, kepemilikan badan hukum menjadi salah satu faktor bahwa suatu usaha mendapatkan legitimasi dari pemerintah. 

Pada kasus Ponzi scheme, biasanya perusahaan yang menjalankan bisnis ini tidak memiliki badan hukum yang jelas. Tak heran, perusahaan seperti ini biasanya tidak memiliki izin usaha dari OJK, Kementerian Perdagangan, maupun BKPM.

Nah, itulah penjelasan mengenai skema Ponzi berikut ciri-cirinya. Sebelum memulai investasi, penting bagi Anda untuk benar-benar mempelajari perusahaan tersebut. Ketahui juga ciri-ciri bisnis berskema Ponzi agar harta Anda bisa aman dari investasi bodong. 

You may also like

Leave a Comment