Home Seputar Kecantikan Bisa Bikin Kanker Loh! Simak Bahaya Zat Paraben Buat Kulit Ini!

Bisa Bikin Kanker Loh! Simak Bahaya Zat Paraben Buat Kulit Ini!

by coriate

Paraben merupakan salah satu zat yang sangat mudah ditemui dalam berbagai produk kecantikan dan perawatan kulit wajah dan tubuh. Bahan ini biasanya digunakan sebagai pengawet. Kendati begitu, faktanya, paraben juga merupakan zat berbahaya bagi tubuh yang dapat menimbulkan berbagai risiko kesehatan serius seperti kanker. 

Apa Itu Zat Paraben?

Agung Sejahtera Zat Kimia 1170px x 780px

Paraben adalah zat kimia yang banyak digunakan sebagai penghambat pertumbuhan mikroba pada suatu produk sehingga produk jadi lebih awet. Masa kadaluarsa produk yang menggunakan paraben pun cukup lama bahkan mencapai lebih dari dua tahun. 

Pemanfaatan zat kimia ini dalam produk kecantikan sebenarnya sudah dimulai sejak lama, yakni 1920. Penggunaan paraben dalam skincare dan produk kecantikan serta perawatan tubuh lainnya bertujuan untuk mengendalikan pertumbuhan mikroba di dalamnya, mengingat jenis produk tersebut memiliki kandungan aktif yang mudah terkontaminasi oleh mikroba seperti bakteri dan jerawat. Begitu terkontaminasi, alih-alih merawat tubuh, produk tersebut justru akan menimbulkan penyakit. 

Pengaplikasian paraben untuk memperpanjang masa penggunaan produk pun telah mengalami berbagai proses. Hingga kini, paraben masih dinilai sebagai pengawet yang paling efektif. 

Bahaya Paraben dalam Skincare

Apakah zat Paraben Berbahaya? Pertanyaan tersebut makin marak seiring dengan banyak dan mudah diaksesnya informasi mengenai berbagai kandungan yang ada di dalam skincare maupun kosmetik. Seperti yang disebutkan sebelumnya, paraben sampai sekarang masih menjadi pengawet yang paling efektif, tetapi sayangnya, zat kimia ini memang memiliki risiko tersendiri untuk kesehatan konsumen.

Sebagai catatan, sebuah produk biasanya menggunakan lebih dari satu jenis paraben dan mengkombinasikannya dengan jenis pengawet lain. Tujuannya tidak lain adalah untuk meningkatkan keampuhan perlindungan produk dari berbagai mikroorganisme yang merugikan. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui jenis paraben.

Kendati demikian, penggunaan zat paraben dalam kosmetik maupun produk skincare telah diatur untuk menjaga keamanan dan meminimalkan risiko pada konsumen. Di Indonesia, ketentuan ini terdapat dalam Peraturan Kepala BPOM RI No. 18 Tahun 2015 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetika

Ketentuan tersebut mengatur jenis-jenis bahan paraben yang diperkenankan untuk menjadi bahan pengawet dalam kosmetika. Selain itu, kadar (persentase) paraben yang dipakai juga dibatasi.

Beberapa lembaga sertifikasi internasional pun mengambil langkah mengenai perizinan produk yang menggunakan produk—bahkan ada yang telah menerapkannya sejak 2002. Adapun lembaga yang tidak lagi memberi sertifikasi pada produk dengan kandungan zat paraben antara lain ECOCERT (Prancis), BIOCOSC (Swiss), NaTrue (Belgia), BDIH (Jerman), dan CosmeBio—asosiasi profesional untuk kosmetik alami, ekologi, dan organik.

Bagi konsumen yang ingin sama sekali menghindari paraben, kini ada lebih banyak pilihan produk paraben-free. Namun, jangan sampai hanya karena label tersebut komposisi produk jadi sama sekali tak dihiraukan. Jika Anda ingin membeli produk skincare yang paraben-free, pastikan cermati dulu kandungan bahannya termasuk jenis pengawet yang digunakan. 

Jenis zat Paraben yang Berbahaya

Agung Sejahtera Zat Kimia Berbahaya 1170px x 780px

Ada tiga jenis paraben yang biasanya digunakan di dalam kosmetik, yakni methylparaben, propylparaben, dan butylparaben. Masing-masing jenis paraben ini sebenarnya memiliki risiko masing-masing, tetapi selama kadar dan campuran yang diberikan tepat sesuai ketentuan, maka masih dapat digunakan.

Efek Samping Paraben

Penggunaan paraben—terutama dalam jumlah banyak dan dalam jangka waktu panjang—akan menimbulkan dampak tersendiri bagi kesehatan tubuh, tidak hanya kulit. Berikut adalah beberapa di antaranya.

1. Alergi

Agung Sejahtera Alergi 1170px x 780px

Alergi terhadap paraben biasanya cukup cepat dikenali meski tanpa penggunaan jangka panjang. Sayangnya, apabila reaksi tersebut tidak segera ditangani dengan tepat, risiko berkembang menjadi gangguan yang lebih serius pun lebih besar.

Bentuk alergi yang ditimbulkan bermacam-macam, seperti:

  • Kulit mulai terasa gatal
  • Muncul ruam kemerahan
  • Kulit menjadi kering dan bersisik
  • Ada pembengkakan
  • Terasa nyeri
  • Kulit melepuh atau terasa sensasi seperti terbakar

Risiko ini dapat dihindari dengan melakukan patch test. Oleskan sedikit produk berparaben yang akan digunakan pada bagian pergelangan tangan dan tunggu reaksinya dalam 48 jam. Apabila tidak ada reaksi yang timbul, tak ada salahnya untuk melakukan patch test sekali lagi dan baru menggunakannya jika memang tidak ada efek buruk yang dialami. Pastinya, hindari mengoleskan produk dengan zat paraben pada permukaan kulit yang sedang terluka atau bermasalah.

2. Gangguan Endokrin

Sistem endokrin bertanggung jawab dalam produksi dan sekresi hormon yang mengontrol banyak fungsi vital tubuh, mulai dari mempengaruhi detak jantung hingga kemampuan bereproduksi. Apabila fungsi endokrin terganggu, berikut beberapa risikonya:

A. Diabetes 

Agung Sejahtera Diabetes 1170px x 780px

Kadar gula dalam tubuh meningkat dan menimbulkan gejala berupa:

  • Rasa lapar meningkat
  • Rasa haus meningkat
  • Buang air kecil terus-terusan
  • Rasa lelah berlebihan
  • Kesemutan pada tangan dan/atau kaki
  • Luka sulit sembuh

B. Kelebihan Hormon Tiroid / Hipertiroid

Agung Sejahtera penyakit gondok 1170px x 780px

Kelenjar tiroid menghasilkan terlalu banyak hormon dan menimbulkan berbagai gejala:

  • Sulit tidur
  • Lebih cepat marah
  • Penyakit gondok
  • Buang air besar lebih sering
  • Sulit tidur
  • Perubahan detak jantung
  • Berat badan turun, tetapi nafsu makan meningkat

C. Kekurangan Hormon Tiroid / Hipertiroid

Agung Sejahtera Kelelahan 1170px x 780px
Kelelahan akibat kekurangan hormon tiroid

Kelenjar tiroid tidak menghasilkan cukup hormon sehingga organ tubuh jadi lambat dan menimbulkan gejala:

  • Kelelahan
  • Wajah bengkak
  • Kelopak mata turun
  • Sensitif dengan udara dingin
  • Kram otot
  • Kebingungan
  • Sembelit
  • Penambahan berat badan
  • Kesemutan di tangan

D. Sindrom Cushing

Agung Sejahtera Kelelahan Yang berlebihan 1170px x 780px

Ini adalah kondisi tubuh memproduksi terlalu banyak kortisol (hormon untuk mengatur metabolisme, menjaga tekanan darah, dan merespon stres) sehingga menimbulkan gejala:

  • Berat badan meningkat
  • Benjolan lemak di antara bahu
  • Lelah berlebihan
  • Pandangan kabur
  • Penurunan gairah seks
  • Penurunan kesuburan
  • Mudah memar dan muncul stretch mark

E. PCOS

Agung Sejahtera Masalah Berat Badan 1170px x 780px

Kondisi ini terjadi karena tidak seimbangya hormon reproduksi sehingga menyebabkan masalah di ovarium dengan gejala:

  • Wajah berjerawat
  • Siklus haid tidak teratur
  • Sulit menurunkan berat badan
  • Rambut menipis
  • Berat badan naik

3. Kanker Payudara

Agung Sejahtera Kanker Payudara 1170px x 780px

Jenis kanker ini menjadi jenis kanker yang paling banyak mengakibatkan kematian pada wanita. Meski diperlukan penelitian lebih lanjut, berbagai studi menyatakan bahwa zat paraben dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Hal ini karena mekanisme aksi sitotoksik dapat berhubungan dengan kegagalan mitokondria.

Paraben yang dapat masuk ke dalam kulit dapat memicu pertumbuhan sel-sel kanker. Paraben juga mempunyai struktur kimia yang mirip dengan estrogen, yakni hormon yang disebut dapat menjadi penyebab penggandaan sel-sel di payudara.

Jenis Paraben yang Aman Digunakan 

Hingga sekarang kebijakan masing-masing negara dan lembaga terkait penggunaan paraben dalam kosmetik masih berbeda-beda. Sebagian sama sekali tidak memperbolehkan karena adanya faktor risiko, sedangkan sebagian lainnya masih mengizinkan dengan regulasi tertentu. 

Adapun seperti yang disebutkan sebelumnya, jenis paraben yang banyak digunakan dalam skincare dan kosmetik adalah methylparaben, propylparaben, dan butylparaben. Selama komposisi dan persentase zat yang digunakan sesuai—sehingga tentu akan mendapat izin dari lembaga terkait—maka akan relatif aman digunakan.

Sebagai catatan, butylparaben punya risiko lebih tinggi untuk mengiritasi kulit sehingga orang yang mempunyai kulit sensitif perlu lebih berhati-hati. Tak ketinggalan, orang dalam kondisi tertentu seperti hamil dan menyusui sebaiknya juga menghindari sama sekali penggunaan zat paraben dalam kosmetik. Pilihlah produk yang paraben-free dengan bahan pengawet yang aman seperti sodium benzoate atau sesuai arahan dokter lainnya.

You may also like

Leave a Comment